Accidentally In Love

11.58 / Diposting oleh me, myself and mine / komentar (0)

Jakarta, November 2007

Langit yang cerah di akhir minggu ini tampak kontras dengan suasana hatinya yang seperti terkena badai. Bahkan Mei sudah meramalkan kapan badai tersebut akan datang, namun tetap saja ia tidak mampu menghindar. Badai yang ternyata lebih besar dari perkiraannya.

Hari ini ia rencanakan menghindar. Dengan melihat dunia luar.

Mei sudah mengatur jadwalnya untuk berangkat pagi dari pukul 8 ia harus sudah tiba di terminal Kampung Rambutan dan berencana mengelilingi Jakarta dengan Trans Jakarta seharian penuh atau bahkan besok ia akan kembali melakukan hal yang sama. Yang penting baginya, ia menghirup kesegaran udara luar, meski Jakarta penuh polusi, baginya itu lebih baik untuk dia bisa bernafas saat ini. Dadanya terasa sangat sesak jika ia sendiri.

Sesempurna apapun yang Mei rencanakan, selalu ada yg terlupa atau hal lain yang tidak direncanakan datang. Seperti susunan lagu yang ia putarkan di ipod nya. Terselip sebuah lagu yang kembali menyakiti dirinya. Yang mengingatkan kembali ajakan untuk melupakan kekasihnya secara pelan-pelan.

Kekasihnya, ika, adalah yang penyebab badai yang menghantam hatinya kini. Bukan subjeknya. Lebih tepat kondisi diantara mereka berdua. Perpisahan yang direncakan karena adanya penyatuan dua insan manusia lain, mantan kekasihnya dengan pria lain. Mereka akan menikah hari ini. Pernikahan yang telah lama direncanakan sebelum Mei datang, atau tepatnya dipaksakan.

Kemarin ia telah menghapus segala hal yang berhubungan dengan Ika. Mereka berdua telah menyerah pada takdir. Hari ini mereka kembali menghadapi realita.

Mei juga bukan orang yang benar. Tapi tak sepantasnya disebutnya dia salah. Kehadiran Mei diantara mereka bukanlah direncanakan atau disengaja. Mungkin takdir yang memaksakan. Bukan keinginan atau logika Mei. Mei sudah berusaha bersikap sewajar mungkin. Bahkan terlihat tidak nyata dalam pandangan Ika. Sama seperti pandangan Ika terhadap ratusan papan nama toko yang terletak di Jalan Gadjah Mada, begitu blur. Mei juga tidak ingin melihat Ika, pada niat awalnya.

Ika tidak boleh disalahkan. Ia hanya korban perasaan. Ia hanya menjalani apa yang orang lain rencanakan, yang mungkin tidak pernah ia bayangkan. Sikap patuhnya membuatnya menyimpan rasa sakit dalam hatinya. Bagaimana pun ia tidak terlalu peduli, tetap selalu ia rasakan. Ingin sekali ia teriak-teriak di depan perencana hidupnya. Sayang agama melarangnya, kembali ia mematuhinya. Ia memang bukan budak yang senantiasa mematuhi majikannya, ia hanya bidadari surga yang ingin kembali ke tempat asalnya setelah mati.

Mereka berdua berada dalam garis abu-abu. Jangan salahkan atas sikap mereka. Sungguh pun mereka disalahkan, kita pun bukan hakim yang pantas menghakimi apa yang mereka lakukan. Bagaimana kita bisa menghakim sesuatu yang tidak tampak, sesuatu yang hanya mungkin fantasi mereka. Fantasi yang kebetulan menempatkan mereka dalam ruang dan waktu yang sama. Fantasi yang hanya mereka berdua rasakan. Karena mereka berada dalam sinyal yang sama untuk menempatkan fantasi mereka dalam sebuah rangkaian kebahagiaan yang tidak pernah mereka temukan sebelumnya, atau pernah, mungkin mereka lupa.

Dalam film (500)Days of Summer, fantasi mereka disebut Love.

Bagaimana ini bisa disebut sebuah kejahatan? Tidak ada barang bukti kejahatan perasaan dalam kasus ini. Tidak ada perebutan kekuasaan atas hati seseorang disini. Kekuasaan perasaan Ika murni miliknya, bukan orang yang berada disampingnya sekarang. Itu pun bukan sebuah kebohongan, pernah kah pria itu menanyakannya, sehingga Ika menjawabnya dengan sebuah kebohongan? Sekiranya yang mereka lakukan dari kemarin itu adalah hubungan formal, seperti sebuah status yang diberikan kerajaan mereka masing-masing.

Mei juga demikian, sedikit pun ia tidak berniat untuk dicintai Ika. Mei tahu, siapa Ika dan pria di sampingnya. Logika dan perasaannya juga tidak pernah menunjukkan adanya tanda-tanda untuk mempunyai perasaan terhadapnya. Logikanya berkata Ika hanya seorang kenalan baru. Perasaannya Mei juga masih milik yang lain. Sayang, Mei tidak mampu menangkap firasat yang diberikan Tuhan malam itu, malam pertemuan dengan Ika. Seseorang yang menciptakan badai yang dasyat pada hari ini.

Akhirnya mereka berdua berkenalan.

Tiga purnama berganti, mereka baru bertemu kembali. Mereka membicarakan kesibukan mereka. Mereka membahas teman-teman mereka. Mereka berbagi cerita tentang hal yang mereka lakukan setiap hari dengan pacarnya masing-masing. Mereka saling menasihati. Mei sering membanggakan pacarnya, Ika malas membahas hubungannya.

Setiap malam mereka berdoa kepada Tuhan. Untungnya Tuhan mereka sama, jadi tak perlu kecanggungan untuk berdoa bersama. Doa mereka setiap malam selalu ingin tidur nyenyak pada malam hari dan bangun dengan perasaan senang di pagi hari.

Dan mereka saling tahu doa mereka selalu terkabul.


Mei akhirnya sendiri. Hubungan dengan pacarnya berakhir. Perlu setengah tahun untuk merenovasi hatinya kembali. Ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Ika pun sedikit terlupakan. Meski kehilangan, Mei mendapat pekerjaan yang ia inginkan. Semangatnya kembali berdiri.

Mei bertemu Ika lagi. Pertemuan kedua ini juga terjadi begitu saja. Tanpa ada yang direncanakan, karena tempat tinggal mereka berjauhan.

“Kenapa kamu tertawa?” ucap Mei.
“Tidak apa-apa. Hanya ingin..” balas Mei. Dalam hatinya, Mei juga tidak dapat menjelaskan apa penyebabnya tertawa. Seolah-olah, ia anak bayi yang selalu tersenyum ketika dirinya merasa bahagia.

----*----*-----


Mei mendapati tempat duduk tidak jauh dari supir Trans Jakarta. Entah kenapa hari ini, Trans Jakarta sepi. Sehingga ia dapat melihat orang-orang yang duduk di depannya.

Pikirannya kembali melayang.

Mei dan Ika beberapa kali berjalan-jalan. Kemana saja. Naek Trans Jakarta, Naek kereta api. Tidak peduli kemana, tidak peduli naik apa. Siapa yang peduli. Asal mereka berdua cukup merasa senang jika pergi bersama. Bukankah tempat manapun akan terasa indahnya jika kita bahagia.

Mereka suka berbincang. Bercanda. Mei suka memegang hidung Ika, mungkin ia gemas. Ika suka merapihkan rambut Mei. Mereka suka berfoto. Di berbagai tempat dengan berbagai pose. Seperti dua sahabat yang telah bertahun-tahun bersama.

Ada hal yang paling mereka suka saat menaiki Trans Jakarta atau kereta api. Mereka duduk bersebarangan, mendengarkan lagu dari ipod masing dan saling menatap, menyelusuri setiap jejak jasmani dan batin diri sendiri dan pasangan di depannya. Ritual ini jauh lebih membuat mereka saling mengenal lebih dalam satu sama lain.

Fantasi mereka akhirnya muncul.

Mei mencintai Ika.
Namun bukan seperti manusia modern yang menderita karena ingin dicintai orang lain. Seperti Artis-artis yang rela melakukan apa saja agar banyak orang yang ngefans. Calon pejabat yang rela mengeluarkan banyak uang supaya banyak pendukungnya. Atau pun para wanita yang rela bersakit-sakitan agar badannya menjadi kurus, agar dirinya dicintai orang. Atau cinta seseorang istri yang menghabiskan banyak uang suaminya untuk merias dirinya, berpakaian menarik, yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan karena suaminya melirik wanita lain yang lebih menarik.

Itu karena mereka hanya ingin dicintai, bukan mencintai.

Mei tulus mencintai Ika. Mei tahu suatu saat akan berpisah dengan orang yang dicintainya. Mei tidak merasa menderita akan kecintaannya untuk Ika. Sungguh pun ia merasa sangat berbahagia. Mei menemukan seorang wanita yang tidak hanya menarik dari fisiknya, namun wanita tersebut mampu meredam emosi dan keegoisan Mei. Mana ada wanita itu sebelumnya. Ika adalah wanita yang diinginkan Mei, sekaligus yang ia butuhkan.

Mei bukanlah orang yang banyak bicara, tetapi akan berbeda jika sudah bersama Ika. Perilaku Ika yang selalu bercanda dan tertawa setiap kali mereka bersama, kadang mengganggu orang-orang disekitar mereka, tapi pasti selalu membuat iri pasangan lain, karena tidak bisa sebahagia dan seramai mereka berdua. Mei menemukan kecocokan dan kebanggaan jika melakukan hal-hal bodoh saat bersama Ika, karena itu pasti membuat Ika tertawa lepas. Mei jadi dirinya sendiri, tanpa peduli apa kata orang.

Mereka yang menertawakan cinta Mei adalah orang-orang yang iri akan cinta yang Mei dapatkan dan berikan kepada wanita pilihannya. Orang-orang itu tidak pernah mendapatkan cinta sebesar itu. Mereka adalah orang-orang yang hina karena menertawakan kemurnian cinta Mei untuk Ika.

Mei tau, mungkin cintanya tidak akan berada disampingnya selamanya. Mei menemukan wanita yang ia dambakan yang mungkin ia tidak akan dapatkan. Mei harus siap dengan segala konsekuensinya untuk merelakan Ika dengan orang lain yang menjadi pendampingnya. Mei tidak mau memikirkan hal itu sekarang, yang Mei mau hanya berbahagia dengan Ika sekarang, sampai waktu ketika Ika akan pergi darinya. Biarlah bersedihnya nanti, jika sudah berpisah.

Mei sadar takkan bisa jauh dari Ika. Tapi Mei juga sadar takkan bisa bercanda seterusnya. Menanyakan kabarnya. Menelponnya setiap pagi hanya untuk membangunkannya. Mendengar suaranya yang tidak jelas saat pagi, yang bagi Mei lebih menyenangkan dibanding suara penyanyi mana pun jika mengucapkan hal yang sama. Bermanja dengan Ika seperti layaknya anak kecil. Atau pun berbisik di telpon saat malam hanya untuk bilang, “aku sayang kamu”, dan mendapat balasan “aku juga sayang kamu” supaya tidak terdengar orang rumah. Rutinitas yang tidak akan membosankan bagi Mei.

Begitu juga dengan yang dirasakan Ika, sesering apapun Mei menghubunginya bukanlah hal yang mengganggunya. Mei adalah orang yang mampu membuatnya kembali tertawa ketika merasa sedih ataupun marah dengan Mei. Kadang Ika marah kepada Mei, namun Mei selalu mampu membuat Ika kembali tersenyum. Ika bukanlah wanita yang mudah luluh ketika marah, ia dapat marah lebih besar jika pasangannya berdebat dengannya. Ika juga bukanlah wanita yang suka dimarahi oleh pasangannya, ia akan lebih marah kepada pasangannya. Beda jika dimarahi Mei, ia selalu menurut bahkan merasa jauh lebih bersalah dan bodoh karena tidak bisa meminta maaf dan menghibur Mei.

Ika ingin bersama Mei, seandainya waktu mempertemukan mereka lebih dulu. Mungkin ika akan disampingnya sekarang.


“Apakah kamu mencintai pria itu?” tanya Mei suatu ketika.
“Iya, aku mencintainya” jawab Ika pelan.
“..bolehkah aku berbohong?” lanjut ika.
“boleh..”



Tak ada pria yang lebih tau Ika dibanding Mei.
Takkan ada wanita yang saat ini lebih diinginkan Mei selain Ika.

Mei masih menantikan hari ketika ketika fantasi itu kembali datang dan menang.
Tanpa direncanakan.

----*----*-----


Aku harus berjalan dan berlari ratusan kilo untuk menemuinya
di tempat yang sangat tersembunyi.
Tidak pernah menyangka akan menemuinya disana.

Ia adalah mutiara yang aku temukan dikedalaman.
Mencintainya bukan sesuatu yang direncanakan.
Hanya sebuah takdir dari kuasa Tuhan.

Menemukannya diperlukan perjuangan.
Mendapatkannya hanyalah sebuah angan dan impian,
yang mungkin terwujud atau kembali terlupakan.








Beberapa tahun kemudian…

Sudah 3 hari Mei selalu pulang malam di kantornya yang baru, di Yogyakarta. Hari ini ia dapat pulang lebih sore, karena itu ia ingin sedikit bersenang-senang sendirian dengan mengendarai Mini Cooper barunya. Mei akhirnya mendapati dirinya ingin makan steak di daerah demangan, tepatnya WS Demangan.

Baru saja ia menikmati steaknya. Tepat di depannya duduk seorang wanita yang sangat ia kenal.
Mereka saling menatap. Tersenyum. Kembali hanyut dalam fantasi.




ps :
tx to Nidji (Dosakah Aku n Takkan bisa), yang lagunya begitu menginspirasi..

Label:

CInta itu buta, percayalah.

19.31 / Diposting oleh me, myself and mine / komentar (0)

Metromini yang aku tunggu tidak menunjukkan keadaan kemunculannya. Sudah hampir setengah jam aku menunggu disini, ditemani rintik hujan dan teriakan kenek bus untuk menarik perhatian para penumpang. Pedagang asongan pun sudah lelah berjualan seharian, kini mereka sibuk membereskan jualannya. Pak polisi terlihat jauh lebih sibuk dengan memarahi supir metromini dan kopaja untuk menjalankan kendaraannya masing-masing. Tak ada hiburan yang menyenangkan disini.

Sejam lalu, aku masih berkutat dengan kerjaan dan luapan emosi untuk sang pacar. Deadline kerjaan seharusnya berakhir sore ini, tapi beberapa masalah teknis memaksa para AE untuk memundurkan jadwal kerjaan ke klien. Sedangkan dia, yang aku harapkan menemani aku dengan tertawa seperti malam-malam sebelumnya, malah dalam keadaaan yang tidak menyenangkan.

Terlalu simple permasalahannya, tapi juga tidak mudah untuk tidak menjadi sebuah permasalahan bagi aku. Hanya, mengapa tidak ada kabar dari dia dan ketika aku memarahinya karena tidak member kabar seharian, dia malah yang berbalik marah kepadaku. Aku lah yang tidak percaya dengan dia, aku lah yang suka negative-thinking, egois dan berbagai alasan lainnya. Fffffffkkkkkkk..!!

Rintik hujan semakin berani menyerangku, kini mereka dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Aku sempat berlindung di bawah tas, namun tidak ada perlindungan berarti, sehingga aku memilih menaiki metromini dengan nomer yang berbeda dan naek metromini lainnya di jalan. Metromini yang aku naeki, tidak terlalu penuh, jadi aku bisa memilih tempat duduk kedua dari depan sebelah kiri. Bajuku amat basah.

Dalam kedinginan dan bête. Aku tidak memperhatikan sepasang kekasih menaiki metromini dan menuju bangku paling depan, mereka tepat berada di depanku. Aku memperhatikan mereka ketika mereka mulai menduduki bangku di depanku. Seorang pria memeluk erat kekasihnya, seperti tidak akan membiarkan kekasihnya itu terlepas dari pelukannya. Dan beberapa kali ciuman mendarat di rambut kekasihnya.

Whaaaaaat...!? Apa yang terjadi denganku malem ini..!!??

Gak taukah mereka apa yang kualami malam ini. Kerjaan lembur, nunggu bus lama, berantem dengan pacar, keujanan dan kini aku harus melihat mereka bermesra-mesraan di depan mata aku. Ya mungkin mereka tidak tau apa yang aku alami, paling tidak mereka melihat ada orang yang duduk dibelakang mereka dengan wajah sangat bête!

Sekitar 15 menit aku menyaksikan keadaaan seperti itu.

Tak lama kemudian, wanita tersebut meneriakkan nama sebuah tempat kepada sang supir. Tak beberapa lama kemudian metromini pun berhenti.

Perlahan, sang wanita berdiri dan memegang besi di kursi untuk pegangan dia. Terlihat dia agak kesusahan untuk berdiri dan keluar dari bangku. Kemudian, tangan kirinya masi berpegangan dengan sang pria dan tangan kanannya berusaha meraba bagian lain untuk pegangan dia, sampai seorang penumpang membantu dia. Oh no..! Wanita itu tidak bisa melihat..!

Aku terdiam.

Kemudian, pandangan aku beralih ke tangan kiri wanita yang memegang kekasihnya, sampai pegangan mereka terlepas. Dan mataku beralih ke wajah sang pria. Oh no..!! Pria itu juga tidak bisa melihat..!!

Aku terdiam. Aku menelan ludah. Sampai metromini itu berjalan dan meninggalkan sang wanita, aku masih tidak bisa berpikir apa-apa.

Pikiran jelek aku tentang mereka berubah 180 derajat..! Bahkan aku merasa bersalah karena telah berpikiran negatif tentang mereka.
Yang ada di pikiran aku kemudian adalah aku menemukan makna lain dari sebuah kalimat, “cinta itu buta”

Dan pertanyaan-pertanyaan ..
Bagaimana mereka bisa saling cinta jika tak mampu melihat?
Bagaimana mereka bisa mempercayai pasangan mereka sepenuhnya?
Bagaimana mereka bisa tahu seseorang itu kekasih mereka?
Apakah cinta sejati itu sebenarnya bukan dilihat, tapi dirasakan?
…..?
…..?

Kemudian, aku menelpon..

“sayang, maafin aku.. AKU SAYANG KAMU.., sungguh..”


ps : note ini dibuat Tidak bermaksud menjelekkan kekurangan org lain.. hanya menceritakan kisah nyata.

Label:

Lagu Romantis..

14.51 / Diposting oleh me, myself and mine / komentar (2)

Drrrrrttt..
hape Nokia Putra bergetar.. Nama Dian tertulis.

“Halo.. kamu dimana?”

“halo. Aku di Rumah sakit”

“Jaga?”

“Iya, masi ada pasien..”

“kalo udah selese, langsung pulang ya..!”

“iya..”

“kamu udah makan..?”

“udah, barusan sama temen”

“Kok kamu lemes banget?”

“iyaaa.. cape bangeet, 2 pasien dioperasi hari ini..”

“ya ampuun.. kasian kamuu..”

“pengen dipijit sama kamu,, pegel2 niih,.. hehe”

“makanya, kamu lembur mulu siih.. udah badan jadi pegel-pegel, mana jarang ketemu kitanya..!” Emang kamu gak kangen aku?”

“kangen.. tapi gimana lagii,, kerjaan aku banyaak.. gak mungkin juga aku tinggal.. coba kamu juga jadi dokter, pasti kamu bisa ngerasain gmn beratnya kalo jd dokter..hehe”

“hmm iya siih, mau aku nyanyiin? Biar kamu semangat lagi.. hehe.. ayoo mau request lagu apa? Hmm.. apa yaa..”

“mauu.. yang romantis ajah, kan udah malem, pasti tambah romantis deh..”

“boleeh, tapi suara aku agak serak, susah buat nada romantis..hehe”

“serak kenapa? kamu cape ya..”

“iya, cape bangeeet ~~..”

“kasian kamu..kamu kemana aja seharian???

“aku abis foto prewed….”

Label:

Sebuah Kado Ulang Tahun

14.50 / Diposting oleh me, myself and mine / komentar (0)

Kafe ini tidak terlalu besar, tapi karena sepi, jadi lebih terlihat sangat luas. Aku sudah duduk hampir 2 jam di meja paling ujung dengan memegang kotak kecil dengan hiasan pita pink di atasnya. Menunggu seseorang datang mengambilnya. Ukuran kotak cukup kecil, sekitar 20 X 20 cm. Tapi cukup besar pejuangan mendapatkannya. Ya, aku harus menjelajah puluhan toko antik dalam waktu 4 bulan untuk mendapatkan benda itu. Setengah tahun yang lalu, aku dengar ia sangat menginginkan benda itu.Dan hari ini dia ulang tahun.

Aneh juga, wanita seperti dia bisa menginginkan benda itu. Selama 4 tahun dekat dengannya, tak pernah sekalipun aku tahu dia sangat menginginkan sebuah benda. Dan baru setahun yang lalu, ada sesuatu yang tidak aku ketahui tentangnya.

Ketika aku mengetahui dia menyukai benda itu, aku pun langsung mencarinya. Aku sangat ingin membuatnya sangat berbahagia dengan benda itu. Begitulah aku, selalu ingin membuatnya tersenyum dengan apa yang aku lakukan untuknya. Karena, dia juga AMAT SANGAT membuat aku BAHAGIA SELALU.

Aku masih memainkan kotak itu, lama sekali orang itu datang. Pelayan café sudah beberapa kali menawari menu, namun aku selalu bilang sedang menunggu seseorang. Dengan minuman cola float aku menghabiskan waktu menunggunya datang. Mungkin, jalanan macet banget, pikirku menghibur diri.

Sebelum cola float gelas kedua habis, akhirnya orang itu datang.

“Halo feb, sori macet banget di jalan! Udah lama lo ya?”

“Gpp ndra, gw sekalian nongkrong kok. o iya nih, kadonya..”

“waah, tengkyu banget.. Yakin lo gak bisa dateng ke acara Ulang Taunnya?”

“Gak bisa ndra, gw ada kerjaan, besok present..”

“Oke deh, tenkyu ya udah nyariin kadonya, gw malah gak tau klo dia pengen banget nih kado!”

“Iya, tp lo jangan bilang dari gw. Lo kan cowonya, pasti dia seneng banget kalo kado itu dari lo.. hehe..”

“sip deeh.. Sori gw langsung cabut.. Udah telat!”



Setelah indra pergi, aku memesan makanan.

Label:

mari memancing

22.40 / Diposting oleh me, myself and mine / komentar (1)

malam hari ini aku kembali mengamati pasangan,
mereka berusaha menikmati alunan musik yang tersaji di depan mereka,
mereka mencoba menyatu dengan suara yang dihasilkan,

segalanya nampak sempurna waktu itu

waktu, tempat, suasana
terasa sangat indah,

khususnya malam itu,
hampir tidak pernah sinar bulan berhenti menambah keindahan mereka berdua,
yang selalu diselingi tawa dan senyuman

tapi kenyataan tidak sesempurna itu,

perjalanan yang terlihat sempurna ternyata makin memperbesar ketidaksempurnaan itu.
ketidakcocokan yang dianggap tidak pernah ada,
makin membesar dalam tiap pertemuan mereka.

sang pria menjadi sosok yang tidak pernah salah di mata wanita,
itulah kesalahan dia,
tidak sedikitpun wanita tersebut mempunyai kesempatan
menjadikannya lebih baik.

sang wanita berusaha menjadi sosok yang terbaik,
sampai - sampai ia melupakan siapa dia sebenarnya,

mungkin mereka melupakan sebuah prinsip

bagaimana seekor ikan harus dipancing ?
bukan oleh makanan kesukaan pemancing.
ikan jauh lebih menyukai sebuah cacing
dibanding makanan enak sang pemancing.

Label:

Bebaskan Hatimu

18.40 / Diposting oleh me, myself and mine / komentar (0)


Pagi ini aku mendengar suaranya..
Tidak seberat peristiwa tahun lalu..
Aku tahu meskipun hatinya tidak pernah kembali utuh
Ia berusaha merangkai kembali hatinya
Sayang, ada bagian yang ia pisahkan.

Titi, aku biasa menyebutnya.
Panggilan itu aku dapat karena sifatnya yang kekanak – kanakan
Meskipun sebenarnya ia dewasa untuk seumuran dengannya, aku lebih suka melihatnya begitu.
Ia dapat meramaikan suasana dengan cara berpakaiannya yang ramai, merah kuning hijau ia gabung jadi satu.
Sikapnya pun ia buat seperti anak – anak, bukan karena ia ingin dipandang seperti itu, hanya karena ia ingin menyenangkan orang – orang yang berada didekatnya.

Aku melihat simfoni nyanyian keindahan terpancar dalam dirinya.
Pancaran matanya selalu menunjukkan kebaikan dalam dirinya, seperti mengatakan ”hai,, aku disini, aku akan buat harimu selalu menyenangkan..”
Kata – kata yang keluar dari mulutnya meski bukan seluruhnya kebenaran, tapi lebih kesebuah ketepatan dengan siapa dia berbicara, hanya karena ia tidak pernah ingin menyakiti lawan bicaranya.
Sedikit saja senyuman itu terlihat dari wajahnya, seperti sebuah teriakan ”Subhaanallah.. betapa indah ciptaanmu ini ya Allah..”

Hatinya ternyata jauh lebih indah dari yang terlihat,
Hatinya mampu memberikan seluruh cintanya kepada pasangannya, jauh melebihi kapasitas hati pasangannya.
Hatinya mampu menampung tombak yang menancap dan menjadikannya sebuah taman hati yang lebih indah dari sebelumnya.
Hatinya mampu merubah suasana perang menjadi sebuah medan puji – pujian.
Kasih sayang dan perhatiannya untuk seorang yang ia cinta tercurahkan senantiasa ia bernafas.

Aku selalu ingin melihat ia seperti itu,
Sayang keadaan memaksaku untuk tidak bisa melihatnya seperti dulu,
Semua keindahan dalam dirinya seperti terbelengu lapisan yang sangat tipis namun buram.

Apakah itu rasa sakit peristiwa masa lalu ?
Apakah itu cinta yang tidak pernah ia lupakan ?
Apakah itu cinta yang tidak berusaha ia lepaskan ?
Apakah itu rasa sesal cinta masa lalunya ?
Aku sendiri mencoba tidak mencari tau,
Sayang jawabannya tidak pernah lepas dari wajahnya,,

Semoga, aku bisa melihatnya seperti dulu.
Ps ; gw berusaha membuat bahasanya senorak mungkin, tapi ternyata masih kalah dengan aslinya..


Label:

page